"Lebay," "Cari perhatian," "Kurang bersyukur." Kata-kata ini masih sering kita dengar ketika seseorang mencoba berbicara tentang perjuangan mentalnya.
Mengapa Stigma Itu Berbahaya?
Stigma membuat orang enggan mencari bantuan. Data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi gangguan jiwa di Indonesia mencapai 7 per mil โ jutaan orang membutuhkan bantuan, tapi banyak yang tidak mendapatkannya karena takut dihakimi.Dari Mana Stigma Ini Berasal?
Stigma tumbuh dari ketidaktahuan. Ketika kita tidak mengerti apa itu depresi, kecemasan, atau trauma, kita mengisi kekosongan itu dengan asumsi dan ketakutan. Pendidikan adalah antidotnya.Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Berhenti menggunakan kata-kata mental health sebagai candaan
- Dengarkan tanpa menghakimi ketika seseorang berbagi
- Edukasi diri dan orang-orang di sekitar kita
- Normalisasi mencari bantuan profesional
Perubahan budaya dimulai dari percakapan kecil. Mulailah dari dirimu sendiri.